Salam Hangat dari Arsy

Seperti biasa, aku berangkat kesekolah diantar oleh ayahku menggunakan bebek butut namun antik. Setiap masuk gerbang sekolah, caci maki bagai membabi buta sudah menungguku! Di sekolah, hanya aku yang selalu dicaci dan diejek oleh teman-temannku, hanya aku yang selalu dijahili oleh teman-temanku sendiri, hanya aku yang berbeda dari mereka, hanya karena kakiku pincang sebelah. Mereka memandang rendah hidupku. Kata mereka, aku hanyalah anak yang menyusahkan orang tua. Mereka dengan semena-mena menindasku! Terkadang kudapati kursiku basah oleh air, sehingga aku harus bersusah payah membersihkannya dulu. Terkadang mereka menendang tongkatku sehingga aku terjatuh. Terkadang mereka menghinaku di depan teman yang lain.  Namun apalah daya. Aku tak pernah punya kekuatan untuk membalas ejekan kawan-kawanku, karena apa yang dikatakan mereka itu benar. Aku hanya gadis cilik berusia 9 tahun yang pincang dan juga malang. Terkadang aku ingin mengutuk hidupku. Mengapa aku harus terlahir pincang? Serasa tuhan itu tidak adil padaku. Apa salahku? Oh tuhan mengapa tak kau cabut saja nyawaku?

Dan yang lebih menyakitkan lagi, mengapa aku harus ditinggal ibuku? Berbagai kutukan telah aku ucapkan untuk wanita itu. Wanita yang meninggalkan aku dan membiarkan ayahku menderita karena harus menjalankan dua peran orangtua secara langsung.

Memang sejak lahir aku tak pernah bertemu bahkan melihat fotonya. Aku tak ingin mengenalnya! Terlalu pedih rasanya ditinggal seorang ibu untuk gadis kecil sepertiku yang seharusnya merasakan kehangatan Ibu!

Aku tak pernah tahu kronologi utuhnya mengapa aku bisa pincang dan mengapa wanita itu pergi tinggalkan darah dagingnya sendiri? Setiap kali aku bertanya pada ayah, beliau hanya menjawab dengan nada ringan namun terkadang terdengar menyesakkan, “Suatu saat kau akan tahu nak, namun bukan sekarang. Aku berjanji pada suatu hari nanti, ketika kuanggap kau sudah layak untuk mengetahui kebenarannya, akan kukatakan semuanya. Semuanya anakku. Namun satu hal yang perlu kau ketahui,ibumu adalah orang yang baik hati.”

Setiap kali aku mendengarkan ayah memuji wanita itu, seketika dadaku sesak, susah bernafas. Aku hanya bisa diam dan masuk kekamar dengan berlinang air mata. Aku benci wanita itu! Siapa pun dia, bagiku ibu tidak pernah ada! Peran ibu sudah seutuhnya diambil alih oleh ayah. Pria yang selama ini selalu menemaniku. Selama 9 tahun. Selama itu pula aku selalu merindukan kasih sayang seorang ibu. Selama itu juga aku sangat membenci wanita itu. Bahkan mungkin sampai aku mati nanti, rasa itu tidak akan pernah berubah. “Apakah kamu mempercayai ayah, Melani?”, tanya Ayah. “Ia ayah”, jawabku sambil melebarkan bibirku beberapa milimeter. Aku tidak pernah menunjukkan pada ayah betapa aku sangat teramat membenci wanita itu. Karena aku sangat sayang pada ayah. Aku tak ingin ayah sedih. Aku hanya memiliki ayah yang selalu setia menemani hari-hari suramku yang selalu di hina dan dicaci maki oleh teman-temanku.

Mengapa aku tidak pernah bertemu dengan Ibu? Mengapa aku tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu layaknya anak-anak yang lain? Setiap pagi di gerbang sekolah, aku hanya akan memperhatikan kehangatan kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang akan menimba ilmu. Memberikan beberapa nasihat agar anaknya belajar dengan rajin dan menjadi orang yang sukses dimasa depan. Kawan-kawannku selalu terlihat gembira bisa datang dengan diantar oleh Ibu mereka. Dan TIDAK denganku. Tidak pernah bagiku merasakan apa yang dirasakan oleh kawan-kawanku yang merasakan kehangatan seorang ibu. Namun bagiku, ayah adalah segalanya. Hanya dia harta karunku sekarang. Dialah Ibuku dan ayahku. Walaupun sejujurnya, aku sangat ingin merasakan kasih sayang Ibu. Walau hanya sekali!

Hari demi hari. Bulan demi bulan. Musim berganti musim. Tahun berganti tahun.
Aku pun beranjak dewasa. Sekarang usiaku sudah bertambah 8 tahun. Namun masih tetap bagiku untuk tidak mengetahui janji ayah yang selalu ia ucapkan setiap kali aku menanyakan apa penyebab Ibu pergi.

Hingga suatu ketika…

Hari itu hari Minggu.

“Mel, shalat duha dulu yuk. Setelah itu ada hal yang ingin bapak bicarakan sama kamu nak.” “Ia ayah”, sahutku dengan hati penasaran mengenai apa yang akan dibicarakan ayah padaku.

Usai menadahkan kedua tangan kepada yang Maha Kuasa, ayah pun berkata, “Nak, kamu sudah beranjak dewasa. Bapak kira sudah saatnya kamu mengetahui kebenaran yang selama ini sudah Bapak pendam sendiri nak.”, kata ayahnya dengan nada sedikit bergetar.     “ Tentang apa itu ayah?” tanyaku.
“ Tentang Ibumu nak”

Seketika itu, jantungku berdetak begitu kencang. Dag dig dug, dag dig dug. Aku sampai takut ayah dapat mendengar suara detak jantungku karena kerasnya. Hingga aku rasa jantungku akan copot dari lem perekatnya. Aneh. Entah mengapa aku terlalu gugup untuk mendengarkan segala kebenaran tentang wanita itu. Tapi sebelumnya, sampai detik ini, aku masih membencinya. Luka dihati yang telah digoreskan wanita itu dihatiku rasanya sudah berakar kuat dan susah untuk dicabut.

Seketika aku lihat wajah ayah yang bercucuran keringat. Mencoba membuka mulut, namun menutupnya kembali. Serasa ayah tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Satu huruf bagaikan mengangkat besi seratus kilo beratnya.

Kemudian ia mencoba mengatakan sesuatu.

“Melani anak ayah yang baik hati. Saat ini adalah saat yang tepat bagimu untuk mengetahui kebenaran mengenai wanita yang telah melahirkanmu, Nak. Kamu sudah beranjak dewasa. Sebenarnya ayah tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Rahasia yang selama 17 tahun telah ayah pendam sendiri. Cerita duka yang menimpa orang yang sangat ayah sayangi. Bahkan jika ayah bisa memutarkan waktu itu kembali, ayah rela untuk menukarkan nafasku padanya, nak. Namun itu adalah hal yang sangat mustahil. Karena setiap manusia sudah punya jalannya masing-masing. Toh memang setiap yang bernyawa pasti akan mati. Hanya permainan waktu yang harus diatur baik-baik oleh setiap yang bernyawa untuk bisa mengumpulkan banyak-banyak amal agar siap ketika dipanggil oleh yang Maha Kuasa,” ujar ayah dengan mata yang agak memerah. “Ayah tahu perasaanmu yang selalu merindukan kasih sayang seorang Ibu. Ayah bisa melihat dengan jelas dari pancaran sorot matamu nak. Kamu selalu mencoba untuk tegar menghadapi pahit manisnya kehidupan. Maafkan ayahmu ini nak. Maafkan ayahmu yang tidak bisa membahagiakan mu nak.”

Aku ingin menangis, namun aku berusaha keras agar tetap tegar.

“Sebenarnya ayah bukanlah ayah kandungmu, nak.”

“Apa?”, betapa shocknya aku mendengar ucapan itu. Apa maksudnya? Jadi siapa dia? Siapakah lelaki yang selama ini selalu menemaniku? Siapa lelaki yang selama ini selalu ku banggakan? Siapa dia? Siapa?!!

“Aku tahu pasti kau sangat terkejut. Aku adalah pacar ibumu nak.”

Apalagi sekarang? Dia bilang bahwa dia adalah pacar wanita itu? Jadi siapakah aku?Apakah aku anak haram? Atau aku anak pungut?

“Dulu, tepatnya 18 tahun yang lalu, Ibumu menikah dengan lelaki yang dijodohkan oleh orang tuanya. Mereka tidak menyetujui hubungan kami karena mereka tahu ayah bukanlah orang yang berada. Mereka takut anaknya akan hidup sengsara. Ayah kandungmu sangat mencintai ibu. Oleh karena itu, ayah dapat merelakan ia bersama lelaki yang lain. Meskipin demikian, kami masih sering berhubungan melalui SMS. Setahun setelah mereka menikah, ibumu hamil. Namun diusia kandungannya menginjak 7 bulan, ibumu jatuh dari tangga. Ibumu sangatlah khawatir tentangmu yang ada dalam perutnya. Tukang pijit sebelah rumah mengatakan bahwa kamu baik-baik saja. Ibumu pun tidak menaruh curiga. Dan 9 bulan setelah itu, ibumu melahirkan bayi cantik nan jelita. Itulah kamu nak. Namun sangat disayangkan ternyata kecelakaan itu membuat kakimu pincang nak. Betapa menyesalnya ibumu melihatmu pincang nak. Bila ia bisa, sangatlah ingin ia menggantikan posisimu dengannya. Namun apalah daya, ia tidak bisa melakukannya.”

Tak terasa satu per satu butiran air memenuhi wajahku.

“Setelah beberapa bulan setelah ibumu melahirkanmu, terjadi perang di desa kami. Perang itu akan membumihanguskan setiap orang yang ada di desa itu. Ibumu menyuruh ayah untuk membawamu pergi jauh dari desa itu. Ibumu ingin anak satu-satunya selamat. Ia merelakan nyawanya hilang demi untuk melindungimu, Nak. Ia harus menemani suaminya. Karena itulah kewajiban seorang Istri. Betapa mulianya Beliau, nak. Ia berkata pada ayah untuk merahasiakan ini darimu. Ibumu menyuruh ayah untuk memberitahumu ketika engkau sudah beranjak dewasa. Sekarang saatnya. Ia hanya berpesan untuk selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintaimu. Hanya kaulah mutiara hidupnya. Ia berkata kau berhak membencinya, kau berhak mencaci makinya. Karena dia merasakan dia bukanlah ibu yang baik. Ia tidak bisa menjaga anaknya.”

“Ini surat yang ibumu titipkan untukmu.”

Kuraih surat itu dengan tangan gemetar.

“Kau boleh membacanya dikamarmu. Temui ayah ketika hatimu sudah lega, nak.”

Aku hanya berjalan dengan otak kosong menuju kamarku. Hatiku hancur berkeping-keping. Apa yang telah aku lakukan selama ini? Aku telah menghina wanita yang paling mulia di dunia ini selama 17 tahun  ya Tuhan. Selama ini aku telah salah menilanya.

Kubuka lembaran surat itu, tanganku gemetar tak menentu. Putihnya kertas sudah berubah menjadi warna daun kering.

“Anakku, apa kabarmu nak? Ibu harap bidadari mulia yang sangat teramat ibu sayangi ini tumbuh dengan baik. Maafkan ibu nak karena tidak bisa menjadi ibu yang patut kau banggakan. Kau boleh membenci ibu nak. Mungkin ibu memang bukan ibu yang baik. Namun asal engkau tahu nak, engkau adalah mutiara yang tak ternilai harganya bagi ibu. Kau adalah semangat ibu. Kau adalah bagian dari hidup ibu. Ibu sangat ingin membesarkanmu dengan tangan ibu sendiri, karena ibu tahu ibu yang telah melahirkanmu. Harusnya ibu juga yang merawatmu. Namun apalah daya nak, ibu harus pergi lebih awal darimu. Maafkan ibu nak, maafkan ibumu yang jahat ini nak. Ibu akan selalu memantaumu dari atas nak, suatu saat pasti kita akan bertemu lagi. Ketika saat itu tiba, ibu pasti akan merawatmu dengan baik nak. Jaga dirimu baik-baik. Salam hangat dari Ibu untuk Bidadari mungilku.”

Isak tangisku tak terbendung lagi. Rasanya ingin menjerit sekeras mungkin.

“Aku sayang Ibu,” jeritku.

About cutvera

Success is to be measured not so much by the position that one has reached in life as by the obstacles which he has overcome. :) do you want to know more about me??? let's make a friends!!!

Posted on December 22, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: